Demareporta
Ketika KOL, hewan mirip siput disawah lagi banyak-banyaknya saat musim hujan menginvasi Desa yang dilanda rasa cemas, akibat ketersediaan pangan perlahan menipis. Seperti dahaga yang disiram air, warga Desa berebutan mengambil dan mengola KOL tersebut.
Diujung lain jalan, anak-anak sibuk main layangan,"kenapa banyak orang tua yang tidak ikut main layangan malah mencari KOL" kata Sudrun kepada temannya, "ya ndak tahu aku drun, itu hak mereka, kita ndak boleh melarang, seperti kita main layangan juga mereka ndak boleh melarang", "gaya bicaramu semacam politikus yang transaksional, boleh atau tidak boleh berdasarkan sama-sama boleh atau tidak boleh bukan karena aturan yang membolehkan atau melarang" kata Sudrun.
Sedangkan Pak Kamto di ujung jalan lain yang sedari tadi memperhatikan anak-anak layangan dan teman sebaya Pak Kamto yang sudah berumur 50 an mencari KOL juga bergumam "Kenapa mereka main layangan dan mereka mencari KOL, mending kayak aku ini cuman duduk melihat memperhatikan keindahan alam, alam pun sepertinya suka sama aku, karena sedari tadi mendung namun tidak hujan menunggu aku pulang dari sini, good job".
Tiga lapisan masyarakat melakukan kegiatannya sendiri-sendiri dan bepikir penting semua. Namun ada yang bernasib lebih tidak jelas, nasib KOL, niatnya memperbanyak keturunan namun lebih banyak manusia yang kelaparan mengambil keturunannya, dan berakhir di dapur rumah-rumah penduduk Desa, ada yang menjadi sate KOL, ada yang menjadi bacem KOL, ada yang menjadi pakan ternak.
Sudrun pun ikut tidak jelas dengan status perutnya, ia lapar namun enggan makan KOL, karena orang tuanya rupanya juga menjadi salah satu dari sekian banyaknya masyarakat yang mencari KOL di sawah sore harinya. "ya sudah aku akan berdamai dengan perutku, aku tahu aku lapar tapi aku sudah berprinsip sedari sore tadi jadi aku memutuskan untuk kenyang".
Beda dengan Sudrun, teman Sudrun dengan lahapnya makan KOL dengan nasi hangat di temaram lampu rumahnya, "enak begini kok Sudrun tadi malah menghina orang yang mencari KOL, perut harus di isi Bung".
Sementara Pak Kamto tidak bergerak dari tempatnya sedari Sore, ia menguji kepada alam suka ia atau tidak jika hujan berarti hanya Pak Kamto yang hanya suka alam, alam tidak suka Pak Kamto, pikir dia. Sungguh pikiran kolot khas Orang Tua di Desa.
Sungguh Desa yang unik.
Comments
Post a Comment