ETIKA



Kemarin saya ada Apel pagi, seperti apel pada umumnya, baris berbaris lalu kemudian masuk ke ruangan untuk bimbingan setiap seminggu sekali. Kebetulan saya dapat di hari senin.

Seminggu sebelumnya atasan saya memberi himbauan ke peserta apel untuk tidak masuk barisan kalau apel sudah mulai dan baris, dikarenakan nanti komandan regu bingung dengan jumlah yang dilaporkan ke pimpinan apel. Dari keterangan tersebut saya tanamkan kedalam pikiran saya. Saya manggut-manggut mantap karena arahan tersebut.

Nah pas Senin kemarin saya kebetulan terlambat, sampai dipakiran saya teringat dengan himbauan itu, jadi saya beserta 3 teman saya tidak masuk barisan dan menunggu diparkiran. Ternyata setelah apel selesai kok semua peserta apel melihat kebelakang kearah parkiran, melihat ke arah kami yang menunggu apel selesai. Padahal biasanya kalau sudah selesai maka bubar barisan.

"woi itu yang disana kesini" teriak salah satu peserta apel yang kebetulan ia adalah atasan di Instansi tersebut.

Dalam hati saya udah "wah saya kena marah ini". Berjalanlah saya beserta 3 teman saya tadi, ke depan dia ( saya tidak menyebut beliau karena malas menghormati dia). Semua peserta mengarahkan pandangan ke kami, kami seolah tertuduh didepan hakim.

Posisi saya berdiri di depan peserta apel

"dari mana kamu "

"dari **** pak" saya menyebutkan instansi saya

"kenapa kamu berhenti disana, tidak ada etika, teman-temanmu apel kamu malah nunggu disana, klemar klemer, kalau terlambat ya lari berusaha ikut apel, tidak malah berdiri disana"

"kata pak **** kemarin kalau apel sudah mulai tidak boleh masuk barisan pak"

"tadi sudah mulai ?"

"sudah pak"

"sudah mulai NDASMU..." hardik dia ke saya didepan peserta apel.

Mendengar itu saya langsung mangkel, bajingan ini orang, saya tahu kalau dia pemimpin di instansi tersebut mbok ya kalau bilang yang kasar-kasar jangan didepan orang banyak. Apalagi posisi saya hanya mematuhi himbauan sebelumnya, kalau misal tidak ada himbauan sebelumnya, ya pasti saya akan lari masuk barisan. Karena sebelum-sebelumnya kalau saya terlambat ya lari. 

Etika yang ditanyakan ke saya tadi seharusnya saya yang bertanya balik. "ETIKA BAPAK SEBAGAI PEMIMPIN MANA ?"  karena bagi saya sesalah-salahnya bawahan tidak pantas dimarahi di depan orang banyak, apalagi dengan kata-kata kasar yang bisa di dengar dengan jelas.

ngomong etika saya dimana, padahal saya hanya mematuhi himbauan pak *****.

Ya mungkin itu hari apes saya, hari yang bakal saya ingat terus sampai dia dipindah tugaskan ke daerah terpencil sana. 

lalu dengan entengnya dia juga bakal ngasih surat peringatan jika kemudian hari etika kami bertiga masih tetap.

Saya hanya bisa tertawa. Ya tentu sambil mesoh mesoh hahahahaha.


Comments