keluh kesah


Dear blog tercinta

Entah harus senang apa sedih saat orang yang disayang telah perlahan-lahan berubah, kemudian dia jujur mengapa dia berubah lalu meminta untuk putus. Sebagai lelaki yang flamboyan pun saya mengiyakan, buat apa hubungan atas dasar keterpaksaan ? Yang ada malah sakit dan sakit karena sudah ndak ada kenyamanan.

Setelah beberapa hari berlalu, tadi pagi kami ketemu saat latihan rutin. Seperti saat masih berstatus pacar, saya selalu memperhatikan dia, dia cantik hari ini gaes. Dan seperti biasa, saya deg-degan.

Gimana ya, walaupun bertatap muka tapi ada tembok yang kokoh menghalangi kami yang disebut "mantan", yaps saya bener-bener canggung gaes, bingung memposisikan saya harus bagaimana. Nggak bisa bersikap seperti ndak ada apa-apa. Karena memang ada apa-apa.

Kalau dicuekin itu ya namanya juga masih sayang, kalau di perhatiin terus itu takutnya malah saya ndak rela melepaskan. Bingung kan ? Sama.

Ya rasanya sama lah saat saya ngapel kerumahnya dulu, kalau ada polisi tidur di kompleksnya di pemirsiin atau dilindas.

Menurut kalian, saya harus gimana gaes ?

Dan yang paling kerasa kehilangan yaitu saat dia perhatian terhadap hal-hal kecil ke saya. Ya saya akui saya  sangat-sangat kangen perhatian dia. Kangen saat dia nyuruh makan banyak, saat nyuruh sholat, saat nyuruh nyanyi, saat nyuruh kirim foto, saat pamit kalau sibuk, saat pamit tidur, saat nyapa di pagi hari dengan sapaan "halo sayang".

Pada akhirnya saya kembali seperti dulu, hanya bisa memperhatikan tapi tak bisa memiliki,hanya bisa kangen terhadap kenangan yang pernah terjadi dan tak akan terjadi lagi.

Saya takut, jika saat ini ada lelaki lain yang saat pagi hari di sapa oleh dia "halo sayang". Saya takut kenyamanan yang saya rasakan dulu di gantikan oleh lelaki lain.

Saya takut.


Comments

Post a Comment